Selasa, 24 April 2018

Bioinsektisida ekstrak buah pinang pengendali hama wereng


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Insektisida biologi (Bioinsektisida) Berasal dari mikroba yang digunakan sebagai insektisida. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga tidak dapat menimbulkan gangguan terhadap hewan-hewan lainnya maupun tumbuhan. Jenis mikroba yang akan digunakan sebagai insektisida harus mempunyai sifat yang spesifik artinya harus menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak pada jenis-jenis lainnya (Sastroutomo, 1992).     
            Pada saat ini hanya beberapa insektisida biologi yang sudah digunakan dan diperdagangkan secara luas. Mikroba patogen yang telah sukses dan berpotensi sebagai insektisida biologi salah satunya adalah Bacillus thuringiensis (Khetan, 2001). Bacillus thuringiensis var. kurstaki telah diproduksi sebagai insektisida biologi dan diperdagangkan dalam berbagai nama seperti Dipel, Sok-Bt, Thuricide, Certan dan Bactospeine. Bacillus thuringiensis var. Israelensis diperdagangkan dengan nama Bactimos, BMC, Teknar dan Vektobak. Jenis insektisida ini efektif untuk membasmi larva nyamuk dan lalat (Sastroutomo, 1992).
Jenis insektisida biologi yang lainnya adalah yang berasal dari protozoa,Nosema locustae, yang telah dikembangkan untuk membasmi belalang dan jengkerik. Nama dagangnya ialah NOLOC, Hopper Stopper. Cacing yang pertama kali didaftarkan sebagai insektisida ialah Neoplectana carpocapsae, yang diperdagangkan dengan nama Spear, Saf-T-Shield. Insektisida ini digunakan untuk membunuh semua bentuk rayap (Sastroutomo, 1992)
Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh. Yang dimaksud hama bagi petani sangat luas yaitu : tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan (Samson et al,. 1998)
Biopestisida adalah bahan yang berasal dari alam, seperti tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman atau juga disebut dengan pestisida hayati. Biopestisida merupakan salah satu solusi ramah lingkungan dalam rangka menekan dampak negatif akibat penggunaan pestisida non hayati yang berlebihan. Saat ini Biopestisida telah banyak dikembangkan di masyarakat khususnya para petani. Namun belum banyak petani yang menjadikan biopestisida sebagai penangkal dan pengedali hama penyakit untuk tujuan mempertahankan produksi (Rachman, 2002)










TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan penelitian, sebagian tumbuhan mengandung bahan kimia yang dapat membunuh, menarik dan menolak serangga, sebagian juga menghasilkan racun, mengganggu siklus pertumbuhan serangga, sistem pencernaan atau mengubah perilaku serangga. Berikut ini beberapa keuntungan yang diperoleh apabila kita menggunakan biopestisida/pestisida hayati dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman (Syahid. 2007) :
1.          Murah dan mudah didapat, terkadang jumlahnya melimpah di alam.
2.          Penggunaannya dalam jumlah yang terbatas dan mudah busuk, sehingga tidak menimbulkan residu pada tanaman.
3.          Aman bagi manusia, hewan, dan ramah lingkungan karena bahan aktif yang digunakan mudah terurai di alam (biodegradable)/tidak menyebabkan residu dan pencemaran.
4.          Pemakaian dengan dosis tinggi sekalipun masih relatif aman, selama perlakuan yang diberikan tepat.
5.          Produk pertanian yang dihasilkan lebih sehat.
6.          Tidak mudah menyebabkan resistansi hama.
7.          Kesehatan tanah lebih terjaga dan dapat meningkatkan bahan organik tanah.
8.          Dapat mempertahankan keberadaan musuh alami.
Di samping keunggulan biopestisida, tentu juga ada kelemahannya, yaitu sebagai berikut :
1.     Kurang praktis, karena perlu membuat/meramu terlebih dahulu.
2.     Tidak langsung membunuh sasaran sehingga daya kerjanya lebih lambat.
3.     Terkadang perlu dilakukan penyemprotan secara berulang-ulang.
4.     Tidak tahan dalam penyimpanan jangka panjang.
Harga pestisida yang semakin membumbung tinggi sebenarnya bisa menjadi faktor pendorong bagi petani kita untuk lebih mandiri dalam melakukan kegiatan budidaya pertanian. Ketergantungan petani terhadap komponen input dari luar dapat ditekan sehingga dapat menekan biaya usahatani. Memperhatikan kondisi lingkungan saat ini yang semakin memprihatinkan, biopestisida merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk menekan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas budidaya pertanian. Teknologi sederhana pembuatan biopestisida yang merupakan kearifan lokal ini perlu digali dan dikembangkan kembali di tengah masyarakat kita. Penelitian-penelitian yang terkait dengannya pun masih perlu dilanjutkan. Bahan-bahan alami apa saja yang dapat kita manfaatkan untuk pembuatan biopestisida. Bahan-bahan tersebut mudah dijumpai dan relatif ekonomis. Tinggal bagaimana kita mengelola bahan-bahan yang melimpah dan murah tersebut untuk meningkatkan hasil produksi dan menekan biaya produksi usahatani kita(Untung, 1993)
Gangguan pada tanaman bisa disebabkan oleh faktor abiotik maupun biotik. Faktor abiotik diantaranya keadaan tanah (struktur tanah, kesuburan tanah, kekurangan unsur hara) ;  tata air (kekurangan, kelebihan, pencemaran air) ; keadaan udara (pencemaran udara) dan faktor iklim. Gangguan dari faktor abiotik bisa diatasi dengan tindakan pengoreksian atau tidak bisa dikoreksi dengan penggunaan pestisida. Sedangkan faktor biotik yang menyebabkan gangguan pada tanaman atau biasa disebut dengan organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : Hama (serangga, tungau, hewan menyusui, burung dan moluska) ; Penyakit (jamur, bakteri, virus dan nematoda) dan Gulma (tumbuhan pengganggu). Gangguan yang disebabkan oleh OPT inilah yang bisa dikendalikan dengan pestisida (Thamrin, 2008)
Tanaman pinang (Areca catechu) merupakan tanaman satu kerabat dengn kelapa yang merupakan tanaman asli asia tenggara yang memiliki banyak manfaat tetapi belum digunakan sebagai tanaman komoditas utama. Produksi buah pinang dapat mencapai 50-100 buah per mayang. Pada tahun 2003 volume ekspor buah pinang mencapai 77 juta kg dengan nilai US$ 22,9 juta. Banyak masyarakat menggunakan biji pinang sebagai upacara adat dan kegiatan menyirih (Sihombing, 2000).
Menurut penelitian “The Merck Index”, kandungan dalam buah biji pinang mengandung senyawa ester metil-tentrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa keras. Senyawa kimia lain yang terkandung dalam biji pinang adalah Tanin sebesar 15 %, tergolong senyawa polifenol yang larut dalam gliserol dan alkohol. Sedangkan alkaloid berkisar 0,3-0,6 %. Sedangkan komposisi lain berupa arakaidin, guakin guvokalin, saponin dan arekolidin. Senyawa lain berupa lemak, karbohidrat dan protein. Kandungan kimia dalam biji pinang yang besar mempunyai sifat sebagai bioaktifitas sebagai insektisida, antinematoda, antibacterial dan alelopati yang berpotensi dapat mengendalikan hama wereng pada tanaman (Firdausi, 2013).
Kingdom                     :Plantae(Tumbuhan)
Subkingdom                :Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)      
 Super Divisi               : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)         
Kelas                           : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)       
Sub Kelas                    : Arecidae       
Ordo                            : Arecales       
Famili                          : Arecaceae (suku pinang-pinangan)  
Genus                          : Areca            
Spesies            : Areca catechu L.      

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini antara lain :
1.      Mahasiswa dapat mengetahui berbagai macam biopestisida/pestisida nabati dari berbagai jenis bahan alami yang mudah diperoleh di alam.
2.      Mahasiswa memahami fungsi /peranan biopestisida/pestisida nabatisesuai dengan kandungan masing-masing bahan sehingga berbeda-beda penggunaan/tujuannya, yaitu ada yang sebagai pestisida/insektisida, herbisida dan fungisida.
3.      Mahasiswa memahami proses-proses biokimia yang terjadi pada setiap tahap dalam pembuatan biopestisida/pestisida nabati.










BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan
1.      1 kg buah pinang muda
2.      3 liter air
3.      1 rimpang kunyit
4.      5 ruas bawang putih
5.      1 sendok sabun colek
Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain ember, pisau, toples, tumbukan (lesung) dan saringan.

Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari Senin, 28 November 2016. Pada pukul 07.30 - selesai. Tempat di Lapangan Sepak Bola Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam praktikum ini adalah :
1.      Sediakan alat dan bahan.
2.      Buah pinang dicuci dan ditumbuk beserta kulitnya hingga terlihat halus.
3.      Kemudian masukkan bawang putih dan kunyit kemudian tumbuk kembali.
4.      Buah pinang dan bahan lain yang sudah dihaluskan ditambahkan dengan 3 liter air dan satu sendok sabon colek diaduk kemudian di saring hingga didapatkan ekstrak buah pinang.
5.      Ekstrak buah binang dapat diaplikasikan untuk membasmi hama wereng pada tanaman padi.




















HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari praktikum ini berupa gambarproses pembuatan biopestisida yang dapat dilihat pada beberapa tabel berikut :
Tabel 1. Proses Pembuatan Mol Ampas Kelapa
No
Keterangan
Gambar
1
Menyiapkan bahan.
2
Menyiapkan alat.
3
Menghaluskan bahan bahan yang akan digunakan sebagai biopestisida.
4
Mencampurkan semua bahan yang telah dihaluskan dengan air dan satu sendok sabon colek kemudian diaduk sampai rata.
5
Menyaring air hasil pengekstrakan.


Tabel 2. Lanjutan
6
Selanjutnya hasil pengekstrakan di diamkan selama 24 jam baru kemudian bisa di aplikasikan

Pembahasan
Pestisida nabati merupakan salah satu pestisida yang terbuat dari bahan alami seperti daun, biji getah yang dihasilkan oleh tanaman. pestisida ini tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan seperti pestisida kimia sehingga tidak merugikan bagi lingkungan sekitar. Pestisida ini bekerja seperti pestisida kimia yang terkadang dapat membunuh hama yang menyerang tetapi kebanyakan pestisida ini hanya menurunkan tingkat serangan akibat adanya senyawa yang tidak disenangi oleh serangga. Berikut beberapa cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu seperti merusak perkembangan telur, larva dan pupa, menghambat pergantian kulit, mengganggu komunikasi serangga, menyebabkan serangga menolak makan, menghambat reproduksi serangga betina, mengurangi nafsu makan, memblokir kemampuan makan serangga, mengusir serangga dan menghambat perkembangan patogen penyakit.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan biopestisisda ini memiliki kandungan senyawa serta fungsinya tersendiri seperti bawang putih berfungsi sebagai  pengusir kutu-kutua, serangga dan  hama lainnya ekstrak sari bawang putih efektif menyebabkan kematian ulat  S.litura instar karena mengandung senyawa aktif saponin, flavonoida politenol dan minyak atsiri. Pinang berfungsi sebagai  Pengusir wereng, pembunuh hama karena bijinya memiliki kandungan berupa ester metil-tentra hidrometil-nikotinatyang berwujud minyak basa keras. Senyawa kimia lain yang terkandungdalam biji pinang adalah tanin, arakaidin, guakin guvokalin, arekolodin alkaloida, saponin. Kunyit dalam penelitian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) menunjukkan bahwa rimpang kunyit mampu menurunkan produksi gas rumah kaca di tanah sawah sebesar 49,3% dibandingkan tanpa diberi kunyit, serta berfungsi sebagai penambat nitrifikasi. Sabon colek berfungsi sebagai perekat biopestisida dengan tanaman.
Mekanisme kerja buah pinang sebagai pengendali OPT bersifat refelen (bersifat menolak), antipedan (juga bersifat menolak), dan juga antralataan (sebagai penarik serangga dengan aroma), juga mengandung senyawa aktif saponin, flavonoida politenol dan minyak atsiri. Pinang berfungsi sebagai  Pengusir wereng karena bijinya memiliki kandungan berupa ester metil-tentra hidrometil-nikotinatyang berwujud minyak basa keras.
Kelebihan dari biopestisida ini adalah Murah dan mudah didapat, terkadang jumlahnya melimpah di alam, penggunaannya dalam jumlah yang terbatas dan mudah busuk, sehingga tidak menimbulkan residu pada tanaman. aman bagi manusia, hewan, dan ramah lingkungan karena bahan aktif yang digunakan mudah terurai di alam (biodegradable)/tidak menyebabkan residu dan pencemaran. pemakaian dengan dosis tinggi sekalipun masih relatif aman, selama perlakuan yang diberikan tepat, produk pertanian yang dihasilkan lebih sehat. Tidak mudah menyebabkan resistansi hama, kesehatan tanah lebih terjaga dan dapat meningkatkan bahan organik tanah, mikroba/spesies tertentu yang digunakan relatif aman, biopestisida yang menggunakan mikroba mengandalkan senyawa biokimia potensial yang disintesis oleh mikroba dan dapat mempertahankan keberadaan musuh alami, di samping keunggulan biopestisida, tentu juga ada kelemahannya, yaitu sebagai berikut : kurang praktis, karena perlu membuat/meramu terlebih dahulu, tidak langsung membunuh sasaran sehingga daya kerjanya lebih lambat, terkadang perlu dilakukan penyemprotan secara berulang-ulang dan tidak tahan dalam penyimpanan jangka panjang.




















KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
               Dari hasil praktikum yang telah di laksanakan,maka dapat di ambil kesimpulan sebagat berikut :
1.    Pestisida nabati merupakan salah satu pestisida yang terbuat dari bahan alami seperti daun, biji getah yang dihasilkan oleh tanaman yang mampu mengendalikan OPT.
2.    Bioinsektisida merupakan pemanfaatan bahan tanaman  yang bermanfaat di sekitar yang berguna sebagai pestisida nabati. Bioinsektisida dapat berasal dari dedaunan,buah buahan dan juga biji bijian yang mudah didapatkan.
3.    Bioinsektisida berperan untuk mengendalikan OPT dengan senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun,bauh dan biji tersebut.
4.    Bioinsektisida berbahan dasar pinang cukup baik dalam pupuk cair karena senyawa-senyawa yang terkandung mempunyai zat zat tertentu yang dapat menolak bahkan membunuh hama.
5.    Selain murah dan mudah didapat, bahan untuk bioinsektisida juga melimpah di alam, penggunaannya dalam jumlah yang terbatas dan mudah busuk, sehingga tidak menimbulkan residu pada tanaman, manusia, hewan, dan ramah lingkungan
Saran
Jaga keakraban antara praktikan dan asdos. Sebelum mulai praktikum awali do’a dan akhiri do’a.

DAFTAR PUSTAKA

Firdausi, 2013. Efektifits Ekstra pinang Terhdp Pengendalian Hama. gitrop 8.

Rachman, 2002. Kemanajuran Beberap Jenis Tumbuhan Rawa Yang Berpotensi Sebagai Insektisida Nabati (DIPHNI INDIC ). Temu Teknis Nasional Teng Fungsionl Pertanian

Sebagai Insektisida Nabati Terhadap hama tanaman . Temu Teknis Nasional Teng Fungsional Pertanian.

Sihombing, 2000. Kemanajurn Beberpa Jenis Tumbuhn Rawa Yng Berpotensi sebagai pengendali hama. Jurnal penelitian Tanaman  Rawa.

Samson et l., 1988. Anatomi Pinang. UGM Malang

Sstroutomo, 1992. Kenaekaragaman jenis tumbuhn sebagai pestisida almi di Savan Bekol Taman Nasionl Baluran. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservsi lama. Vol.5(4):355-365.

Sutnto, R. 2002. Penerapan Pertnian Orgnik. Kanisius. Yogyakarata

Syahid. 2007. Tanaman Pinang Sebagi Tanaman Obat. Tersedia di http://rtikel Kesehaatn Masayarakat.com/2010. Diakses 17 Oktober 2012.

Thamrin, 2008. Potensi Ekstark Flora Lahan Rawa Sebagia Pestisida Nabati. Jakarta: bali pertanain lahan rawa

Untung, 1993. Pestisida alami ( Nabati). Jakarta: Erlngga.
Wng et. 1996. Pinang. Tersedi di http://boelkhir.com. Dikses 17 Oktob



0 komentar: