PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Insektisida
biologi (Bioinsektisida) Berasal dari mikroba yang digunakan sebagai
insektisida. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga tidak dapat
menimbulkan gangguan terhadap hewan-hewan lainnya maupun tumbuhan. Jenis
mikroba yang akan digunakan sebagai insektisida harus mempunyai sifat yang
spesifik artinya harus menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak pada
jenis-jenis lainnya (Sastroutomo, 1992).
Pada saat ini hanya beberapa insektisida biologi yang sudah digunakan dan diperdagangkan secara luas. Mikroba patogen yang telah sukses dan berpotensi sebagai insektisida biologi salah satunya adalah Bacillus thuringiensis (Khetan, 2001). Bacillus thuringiensis var. kurstaki telah diproduksi sebagai insektisida biologi dan diperdagangkan dalam berbagai nama seperti Dipel, Sok-Bt, Thuricide, Certan dan Bactospeine. Bacillus thuringiensis var. Israelensis diperdagangkan dengan nama Bactimos, BMC, Teknar dan Vektobak. Jenis insektisida ini efektif untuk membasmi larva nyamuk dan lalat (Sastroutomo, 1992).
Pada saat ini hanya beberapa insektisida biologi yang sudah digunakan dan diperdagangkan secara luas. Mikroba patogen yang telah sukses dan berpotensi sebagai insektisida biologi salah satunya adalah Bacillus thuringiensis (Khetan, 2001). Bacillus thuringiensis var. kurstaki telah diproduksi sebagai insektisida biologi dan diperdagangkan dalam berbagai nama seperti Dipel, Sok-Bt, Thuricide, Certan dan Bactospeine. Bacillus thuringiensis var. Israelensis diperdagangkan dengan nama Bactimos, BMC, Teknar dan Vektobak. Jenis insektisida ini efektif untuk membasmi larva nyamuk dan lalat (Sastroutomo, 1992).
Jenis
insektisida biologi yang lainnya adalah yang berasal dari protozoa,Nosema
locustae, yang telah dikembangkan untuk membasmi belalang dan jengkerik. Nama
dagangnya ialah NOLOC, Hopper Stopper. Cacing yang pertama kali didaftarkan
sebagai insektisida ialah Neoplectana carpocapsae, yang diperdagangkan dengan
nama Spear, Saf-T-Shield. Insektisida ini digunakan untuk membunuh semua bentuk
rayap (Sastroutomo, 1992)
Pestisida
adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan
berbagai hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris
yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh. Yang dimaksud
hama bagi petani sangat luas yaitu : tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman
yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, nematoda (cacing yang
merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan (Samson
et al,. 1998)
Biopestisida
adalah bahan yang berasal dari alam, seperti tumbuh-tumbuhan yang digunakan
untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman atau juga disebut dengan
pestisida hayati. Biopestisida merupakan salah satu solusi ramah lingkungan
dalam rangka menekan dampak negatif akibat penggunaan pestisida non hayati yang
berlebihan. Saat ini Biopestisida telah banyak dikembangkan di masyarakat
khususnya para petani. Namun belum banyak petani yang menjadikan biopestisida
sebagai penangkal dan pengedali hama penyakit untuk tujuan mempertahankan
produksi (Rachman, 2002)
TINJAUAN
PUSTAKA
Berdasarkan
penelitian, sebagian tumbuhan mengandung bahan kimia yang dapat membunuh,
menarik dan menolak serangga, sebagian juga menghasilkan racun, mengganggu
siklus pertumbuhan serangga, sistem pencernaan atau mengubah perilaku serangga.
Berikut ini beberapa keuntungan yang diperoleh apabila kita menggunakan
biopestisida/pestisida hayati dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman
(Syahid. 2007) :
1.
Murah dan mudah didapat, terkadang jumlahnya melimpah
di alam.
2.
Penggunaannya dalam jumlah yang terbatas dan mudah
busuk, sehingga tidak menimbulkan residu pada tanaman.
3.
Aman bagi manusia, hewan, dan ramah lingkungan karena
bahan aktif yang digunakan mudah terurai di alam (biodegradable)/tidak
menyebabkan residu dan pencemaran.
4.
Pemakaian dengan dosis tinggi sekalipun masih relatif
aman, selama perlakuan yang diberikan tepat.
5.
Produk pertanian yang dihasilkan lebih sehat.
6.
Tidak mudah menyebabkan resistansi hama.
7.
Kesehatan tanah lebih terjaga dan dapat meningkatkan
bahan organik tanah.
8.
Dapat mempertahankan keberadaan musuh alami.
Di samping
keunggulan biopestisida, tentu juga ada kelemahannya, yaitu sebagai berikut :
1.
Kurang praktis, karena perlu membuat/meramu terlebih dahulu.
2.
Tidak langsung membunuh sasaran sehingga daya kerjanya lebih lambat.
3.
Terkadang perlu dilakukan penyemprotan secara berulang-ulang.
4.
Tidak tahan dalam penyimpanan jangka panjang.
Harga
pestisida yang semakin membumbung tinggi sebenarnya bisa menjadi faktor
pendorong bagi petani kita untuk lebih mandiri dalam melakukan kegiatan
budidaya pertanian. Ketergantungan petani terhadap komponen input dari luar
dapat ditekan sehingga dapat menekan biaya usahatani. Memperhatikan kondisi
lingkungan saat ini yang semakin memprihatinkan, biopestisida merupakan
alternatif yang dapat ditempuh untuk menekan kerusakan lingkungan yang
diakibatkan oleh aktivitas budidaya pertanian. Teknologi sederhana pembuatan
biopestisida yang merupakan kearifan lokal ini perlu digali dan dikembangkan
kembali di tengah masyarakat kita. Penelitian-penelitian yang terkait dengannya
pun masih perlu dilanjutkan. Bahan-bahan alami apa saja yang dapat kita
manfaatkan untuk pembuatan biopestisida. Bahan-bahan tersebut mudah dijumpai
dan relatif ekonomis. Tinggal bagaimana kita mengelola bahan-bahan yang
melimpah dan murah tersebut untuk meningkatkan hasil produksi dan menekan biaya
produksi usahatani kita(Untung, 1993)
Gangguan pada tanaman bisa disebabkan oleh faktor abiotik maupun biotik.
Faktor abiotik diantaranya keadaan tanah (struktur tanah, kesuburan tanah,
kekurangan unsur hara) ; tata air (kekurangan, kelebihan, pencemaran air)
; keadaan udara (pencemaran udara) dan faktor iklim. Gangguan dari faktor
abiotik bisa diatasi dengan tindakan pengoreksian atau tidak bisa dikoreksi
dengan penggunaan pestisida. Sedangkan faktor biotik yang menyebabkan gangguan
pada tanaman atau biasa disebut dengan organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT
dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : Hama (serangga, tungau, hewan menyusui,
burung dan moluska) ; Penyakit (jamur, bakteri, virus dan nematoda) dan Gulma
(tumbuhan pengganggu). Gangguan yang disebabkan oleh OPT inilah yang bisa
dikendalikan dengan pestisida (Thamrin, 2008)
Tanaman
pinang (Areca catechu) merupakan
tanaman satu kerabat dengn kelapa yang merupakan tanaman asli asia tenggara
yang memiliki banyak manfaat tetapi belum digunakan sebagai tanaman komoditas
utama. Produksi buah pinang dapat mencapai 50-100 buah per mayang. Pada tahun
2003 volume ekspor buah pinang mencapai 77 juta kg dengan nilai US$ 22,9 juta.
Banyak masyarakat menggunakan biji pinang sebagai upacara adat dan kegiatan
menyirih (Sihombing, 2000).
Menurut
penelitian “The Merck Index”,
kandungan dalam buah biji pinang mengandung senyawa ester metil-tentrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa keras.
Senyawa kimia lain yang terkandung dalam biji pinang adalah Tanin sebesar 15 %,
tergolong senyawa polifenol yang larut dalam gliserol dan alkohol. Sedangkan
alkaloid berkisar 0,3-0,6 %. Sedangkan komposisi lain berupa arakaidin, guakin
guvokalin, saponin dan arekolidin. Senyawa lain berupa lemak, karbohidrat dan
protein. Kandungan kimia dalam biji pinang yang besar mempunyai sifat sebagai
bioaktifitas sebagai insektisida, antinematoda, antibacterial dan alelopati
yang berpotensi dapat mengendalikan hama wereng pada tanaman (Firdausi, 2013).
Kingdom :Plantae(Tumbuhan)
Subkingdom :Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Arecidae
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus : Areca
Spesies : Areca catechu L.
Subkingdom :Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Arecidae
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus : Areca
Spesies : Areca catechu L.
Tujuan Praktikum
Tujuan
dari praktikum ini antara lain :
1. Mahasiswa
dapat mengetahui berbagai macam biopestisida/pestisida nabati dari berbagai
jenis bahan alami yang mudah diperoleh di alam.
2. Mahasiswa
memahami fungsi /peranan biopestisida/pestisida nabatisesuai dengan kandungan
masing-masing bahan sehingga berbeda-beda penggunaan/tujuannya, yaitu ada yang
sebagai pestisida/insektisida, herbisida dan fungisida.
3. Mahasiswa
memahami proses-proses biokimia yang terjadi pada setiap tahap dalam pembuatan
biopestisida/pestisida nabati.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan
1. 1
kg buah pinang muda
2. 3
liter air
3. 1
rimpang kunyit
4. 5
ruas bawang putih
5. 1
sendok sabun colek
Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain ember, pisau, toples, tumbukan (lesung) dan saringan.
Waktu
dan Tempat
Praktikum
ini dilakukan pada hari Senin, 28 November 2016. Pada pukul 07.30 - selesai.
Tempat di Lapangan Sepak Bola Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
Prosedur
Kerja
Prosedur
kerja dalam praktikum ini adalah :
1. Sediakan
alat dan bahan.
2. Buah
pinang dicuci dan ditumbuk beserta kulitnya hingga terlihat halus.
3. Kemudian
masukkan bawang putih dan kunyit kemudian tumbuk kembali.
4. Buah
pinang dan bahan lain yang sudah dihaluskan ditambahkan dengan 3
liter air dan satu sendok sabon colek
diaduk kemudian di saring hingga didapatkan ekstrak buah pinang.
5. Ekstrak
buah binang dapat diaplikasikan untuk membasmi hama wereng pada tanaman padi.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari praktikum ini berupa gambarproses pembuatan biopestisida yang
dapat dilihat pada beberapa tabel berikut :
Tabel 1. Proses Pembuatan Mol Ampas
Kelapa
|
No
|
Keterangan
|
Gambar
|
|
1
|
Menyiapkan
bahan.
|
![]() |
|
2
|
Menyiapkan
alat.
|
![]() |
|
3
|
Menghaluskan
bahan bahan yang akan digunakan sebagai biopestisida.
|
![]() |
|
4
|
Mencampurkan
semua bahan yang telah dihaluskan dengan air dan satu sendok sabon colek
kemudian diaduk sampai rata.
|
![]() |
|
5
|
Menyaring
air hasil pengekstrakan.
|
![]() |
Tabel 2. Lanjutan
|
6
|
Selanjutnya
hasil pengekstrakan di diamkan selama 24 jam baru kemudian bisa di
aplikasikan
|
![]() |
Pembahasan
Pestisida
nabati merupakan salah satu pestisida yang terbuat dari bahan alami seperti
daun, biji getah yang dihasilkan oleh tanaman. pestisida ini tidak menimbulkan
dampak yang buruk bagi lingkungan seperti pestisida kimia sehingga tidak
merugikan bagi lingkungan sekitar. Pestisida ini bekerja seperti pestisida
kimia yang terkadang dapat membunuh hama yang menyerang tetapi kebanyakan
pestisida ini hanya menurunkan tingkat serangan akibat adanya senyawa yang
tidak disenangi oleh serangga. Berikut beberapa cara kerja pestisida nabati
sangat spesifik, yaitu seperti merusak perkembangan telur, larva dan pupa,
menghambat pergantian kulit, mengganggu komunikasi serangga, menyebabkan
serangga menolak makan, menghambat reproduksi serangga betina, mengurangi nafsu
makan, memblokir kemampuan makan serangga, mengusir serangga dan menghambat
perkembangan patogen penyakit.
Bahan-bahan
yang digunakan dalam praktikum pembuatan biopestisisda ini memiliki kandungan
senyawa serta fungsinya tersendiri seperti bawang putih berfungsi sebagai pengusir kutu-kutua, serangga dan hama lainnya ekstrak sari bawang putih
efektif menyebabkan kematian ulat
S.litura instar karena mengandung senyawa aktif saponin, flavonoida
politenol dan minyak atsiri. Pinang berfungsi sebagai Pengusir wereng, pembunuh hama karena bijinya
memiliki kandungan berupa ester metil-tentra hidrometil-nikotinatyang berwujud
minyak basa keras. Senyawa kimia lain yang terkandungdalam biji pinang adalah
tanin, arakaidin, guakin guvokalin, arekolodin alkaloida, saponin. Kunyit dalam
penelitian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) menunjukkan bahwa
rimpang kunyit mampu menurunkan produksi gas rumah kaca di tanah sawah sebesar
49,3% dibandingkan tanpa diberi kunyit, serta berfungsi sebagai penambat
nitrifikasi. Sabon colek berfungsi sebagai perekat biopestisida dengan tanaman.
Mekanisme
kerja buah pinang sebagai pengendali OPT bersifat refelen (bersifat menolak),
antipedan (juga bersifat menolak), dan juga antralataan (sebagai penarik
serangga dengan aroma), juga mengandung senyawa aktif saponin, flavonoida
politenol dan minyak atsiri. Pinang berfungsi sebagai Pengusir wereng karena
bijinya memiliki kandungan berupa ester metil-tentra hidrometil-nikotinatyang
berwujud minyak basa keras.
Kelebihan
dari biopestisida ini adalah Murah dan mudah didapat, terkadang jumlahnya
melimpah di alam, penggunaannya dalam jumlah yang terbatas dan mudah busuk,
sehingga tidak menimbulkan residu pada tanaman. aman bagi manusia, hewan, dan
ramah lingkungan karena bahan aktif yang digunakan mudah terurai di alam
(biodegradable)/tidak menyebabkan residu dan pencemaran. pemakaian dengan dosis
tinggi sekalipun masih relatif aman, selama perlakuan yang diberikan tepat,
produk pertanian yang dihasilkan lebih sehat. Tidak mudah menyebabkan
resistansi hama, kesehatan tanah lebih terjaga dan dapat meningkatkan bahan
organik tanah, mikroba/spesies tertentu yang digunakan relatif aman,
biopestisida yang menggunakan mikroba mengandalkan senyawa biokimia potensial
yang disintesis oleh mikroba dan dapat mempertahankan keberadaan musuh alami,
di samping keunggulan biopestisida, tentu juga ada kelemahannya, yaitu sebagai
berikut : kurang praktis, karena perlu membuat/meramu terlebih dahulu, tidak
langsung membunuh sasaran sehingga daya kerjanya lebih lambat, terkadang perlu
dilakukan penyemprotan secara berulang-ulang dan tidak tahan dalam penyimpanan
jangka panjang.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah
di laksanakan,maka dapat di ambil kesimpulan sebagat berikut :
1. Pestisida
nabati merupakan salah satu pestisida yang terbuat dari bahan alami seperti
daun, biji getah yang dihasilkan oleh tanaman yang mampu mengendalikan OPT.
2. Bioinsektisida
merupakan pemanfaatan bahan tanaman yang
bermanfaat di sekitar yang berguna sebagai pestisida nabati. Bioinsektisida
dapat berasal dari dedaunan,buah buahan dan juga biji bijian yang mudah
didapatkan.
3. Bioinsektisida
berperan untuk mengendalikan OPT dengan senyawa-senyawa yang terkandung dalam
daun,bauh dan biji tersebut.
4. Bioinsektisida
berbahan dasar pinang cukup baik dalam pupuk cair karena senyawa-senyawa yang
terkandung mempunyai zat zat tertentu yang dapat menolak bahkan membunuh hama.
5. Selain murah
dan mudah didapat, bahan untuk bioinsektisida juga melimpah di alam,
penggunaannya dalam jumlah yang terbatas dan mudah busuk, sehingga tidak
menimbulkan residu pada tanaman, manusia, hewan, dan ramah lingkungan
Saran
Jaga
keakraban antara praktikan dan asdos. Sebelum mulai praktikum awali do’a dan
akhiri do’a.












0 komentar:
Posting Komentar